Selasa, 12 Januari 2010

Riwayat Hidup Beata Maria Helena Stollenwerk


HELENA dilahirkan pada tanggal 28 November 1852 di Rollesbroich, sebuah dusun kecil di desa Simmerath di wilayah Eifel. Ayahnya bernama Johann Peter Stollenwerk. Johann Peter dilahirkan pada tanggal 19 Desember 1785. Mulanya dia bekerja sebagai pelaut. Waktu itu wilayah Eifel termasuk daerah miskin dan tidak mampu menjamin nafkah untuk para penduduknya. Sebab itu dalam abad ke-19, 3% penduduknya mengungsi ke Amerika. Di masa kekuasaan para raja Prusia, Eifel dikenal sebagai kantung kemiskinan Prusia. Satu-satunya industri yang ada di sana adalah pabrik tenun di Monschau yang mempekerjakan 6000 orang. Kebanyakan penduduk Eifel tetap tinggal di kampungnya. Karena itu para pelaut dari kampung itu merupakan kaum terdidik, sebab dalam pelayaran mereka mendengar banyak hal baru. Pada tanggal 16 Juli 1807 Johann Peter Stollenwerk menikahi Anna Katharina Stollenwerk, putri seorang pelaut. Menurut kitab hukum Napoleon yang berlaku waktu itu, Johann Peter yang berusia 22 tahun masih termasuk belum dewasa dan karena itu dia membutuhkan persetujuan keluarganya untuk menikah. Sesudah menikah dia pindah dari Witzerath ke kampung tetangga, Rollesbroich. Dia tetap tinggal dalam paroki yang sama. Dari perkawinan ini dia dikaruniai 9 anak. Tiga diantaranya bisu tuli.

Mulai tahun 1816 Johann Peter Stollenwerk bekerja sebagai "petani". Rupanya dia cukup berbakat sebagai petani. Sebab kekayaannya bertambah cukup cepat. Dia sering membeli lahan baru dan membangun untuk putra-putrinya beberapa rumah. Di tengah situasi di mana banyak orang terpaksa meninggalkan wilayah Eifel untuk beremigrasi ke Amerika Utara atau Amerika Selatan, Johann Peter Stollenwerk justru berhasil mengumpulkan sejumlah kekayaan. Tetapi kekayaan itu relatif, sebab daerah sekitar Simmerath terkenal tidak subur dan mempunyai iklim yang tak menguntungkan. Walau demikian, dalam surat lamarannya Helena menekankan, bahwa dia berasal dari sebuah keluarga berada. Seandainya dia menikah, dia pasti mendapat pemberian yang cukup dari keluarganya sebagai modal awal. Sebab itu dia tidak perlu masuk biara, kalau itu hanya untuk mencari situasi hidup yang lebih baik. Karena itu dapat dipastikan, bahwa dia didorong oleh kerinduan yang lain.

Tahun 1833 istri pertama Johann Peter Stollenwerk meninggal. Pada tanggal 18 Agustus 1836 dia menikahi janda Anna Barbara Stollenwerk yang masih mempunyai hubungan keluarga dengannya. Dia sudah pernah menikah dan sejak 1835 menjadi seorang janda. Dari pernikahan pertamanya dia tidak mempunyai anak. Tahun 1851 istri kedua Johann Peter ini pun meninggal. Maka dia pun menikah untuk ketiga kalinya. Pernikahan ketiga terjadi pada tanggal 22 Januari 1852 dengan Anna Maria Borngard. Pada tanggal 28 Nopember 1852 Anna Maria melahirkan seorang bayi, Anna Helena, yang dipanggil Helena. Pada saat kelahirannya, sang ayah sudah berusia 67 tahun, sementara ibunya baru berusia 27 tahun. Helena merupakan seorang anak pendiam. Hal ini dapat dimengerti kalau kita memperhatikan situasi keluarganya. Saudara/i tirinya jauh lebih tua darinya, malah mereka sudah bisa menjadi orangtuanya sendiri. Ayahnya sendiri lebih tampak sebagai kakeknya. Jarak usia antara mereka terlalu besar, sehingga Helena tidak mempunyai hubungan batin dengannya. Selain itu ayahnya sering bekerja di luar rumah. Sebab itu Helena tidak banyak mengalaminya. Johann Peter Stollenwerk memang sangat aktif baik di bidang politik maupun gerejani. Pada tahun 1852 dia ditunjuk oleh pemerintah wilayah di Aachen untuk menjadi wakil kepala desa di Simmerath. Di paroki dia memegang beberapa jabatan. Dia sangat berjasa dalam pembangunan sebuah gereja di Rollesbroich. Pembangunan itu merupakan langkah penting yang perlahan mengantar Rollesbroich menjadi paroki sendiri.

Tahun 1855 Helena mendapat seorang saudari, Carolina. Tetapi dia hanya berusia empat tahun. Dia meninggal pada tahun 1859, tiga bulan setelah ayahnya sendiri meninggal. Helena sendiri berusia 7 tahun waktu ayahnya meninggal pada tanggal 27 Mei 1859. Agaknya dari Johann Peter Stollenwerk, Helena belajar untuk turut bertanggung jawab atas orang lain. Demikian pula kesediaan untuk mengorbankan diri bagi orang lain dan tekad untuk tetap menekuni jalan yang sudah dimulai. Namun dia toh tidak memiliki hubungan pribadi dengan ayahnya. Kematian sang ayah yang terlalu cepat dan saudari tunggalnya menimbulkan pergolakan batin dalam diri Helena. Sejak saat itu dia senantiasa memikirkan tentang nasib anak-anak kusta di Cina. Saat itu muncullah minatnya akan bermisi nun jauh di Cina.

Setelah meninggalnya sang ayah, kini ibu sendirilah yang harus memecahkan persoalan tentang masa depannya sendiri dan masa depan anak-anaknya. Setelah berpikir dan merenung beberapa waktu akhirnya dia memutuskan untuk sekali lagi menikah. Maka pada tanggal 24 Nopember 1860 dia menikahi si duda Johann Peter Breuer (1814-1894), yang sudah mempunyai tiga anak gadis dari istri pertamanya. Mereka ini mempunyai hubungan batin yang lebih dekat dengan Helena daripada saudara-saudari tirinya yang lain dari istri pertama ayah Helena. Mereka saling mengerti. Helena mengalami mereka sebagai saudari sendiri. Juga dengan ayah tirinya Helena mempunyai hubungan yang baik. Dalam surat-suratnya yang ditulis dari Steyl untuk orang tuanya terungkap cintanya akan ibu dan ayah. Dan ayah tirinyalah yang bisaanya membalas surat-suratnya. Tanggung jawab ayah tirinya itu akan keluarga berakar dalam keyakinan iman yang dalam dan sehat. Dia mencintai Helena, seolah dia adalah ayah kandungnya sendiri.

Helena lahir dan bertumbuh dalam situasi keluarga yang kompleks. Ayah kandungnya dialaminya hanya 7 tahun. Saudara-saudarinya sudah terlalu tua, sehingga dia tidak dapat menjalin kontak batin dengan mereka. Gadis-gadis yang paling dekat dengannya berasal dari perkawinan lain. Dia tidak mengalami masa kecil yang indah. Sejak kecil Helena sudah dilatih untuk selalu memperhatikan dan mendamaikan kelompok dan minat yang berbeda. Lagi pula dia masih mempunyai tiga kakak tiri yang cacad. Seorang saudari tiri yang bisu tuli tetap tinggal di rumah sesudah bapa dan ibunya meninggal, dan Helena pun harus turut merawatnya. Ibu kandungnya sendiri masih melahirkan seorang putri dari perkawinannya yang kedua, Anna Maria (1863-1933). Helena punya hubungan yang akrab dengan putri-putri ibu tirinya.


Perkembangan Religius
Keluarga Helena adalah sebuah keluarga Kristen. Pada paro kedua abad ke-19 Gereja berkembang pesat dimana-mana. Banyak paroki baru dibentuk. Di hampir semua paroki kehidupan gerejani dan liturgis bertumbuh secara intensif. Helena menjadi besar di tengah sebuah jemaat yang hidup. Dia ikut serta dalam perayaan ekaristi mingguan dan pada pelajaran agama sekolah minggu pada sore harinya. Yang paling menarik minatnya adalah Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus. Kelompok ini didirikan pada tahun 1843 oleh Uskup dari Nancy dan Toul dan bertujuan menarik dan membina minat anak-anak untuk merasa senasib dan solider dengan teman-teman sebayanya di tanah-tanah misi. Pada tahun-tahun pertama Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus terutama membantu karya misi di Cina, sejak 1849 juga misi Afrika. Perkumpulan ini menerbitkan empat kali setahun sebuah majalah yang memuat pengalaman para misionaris. Helena selalu rajin membaca majalah ini. Melalui majalah ini dia pun perlahan mengenal dunia luas, sebab masa sekolahnya lebih merupakan sebuah masa kesempitan. Pada waktu itu raja Prusia, Fredrich Wilhelm IV, membatasi pelajaran di sekolah hanya pada tiga teknik dasar: membaca, menulis dan sedikit berhitung. Selain itu pelajaran agama diberi setiap hari. Tetapi dalam jadwal pelajaran tidak tercantum geografi ataupun sejarah. Si Raja hendak membodohkan rakyatnya. Sebab dia berpendapat, bahwa pendidikan yang liberal turut berperan dalam meletusnya revolusi 1848, bahwa rakyat yang tidak terdidik tidak akan aktif secara sosial dan politis. Helena sangat menderita dalam hidupnya karena pendidikan sekolah yang terbatas ini. Kadang-kadang dia berpendapat, pendidikan yang buruk inilah yang menghambatnya untuk mempelajari sebuah bahasa baru dan dengan demikian bisa ke tanah misi.

Di tengah sempitnya horizon pendidikan ini, Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus dengan majalahnya membuka wawasan Helena bagi dunia luas. Di tengah kedangkalan pelajaran sekolah, Gereja membuka wawasan masyarakat terhadap kemajemukan dan kebebasan dengan menyebarkan pengalaman-pengalaman para misionaris dari tanah-tanah misi. Dalam terbitan khusus tahunan, Helena membaca kisah-kisah menarik tentang anak-anak di Cina yang ditinggalkan sendirian di dalam Lumpur. Dengan ini dia dapat memecahkan kesehariannya yang monoton dan belajar lebih banyak. Pada waktu itu tidak ada banyak bahan bacaan untuk keluarga-keluarga petani di desa-desa. Sebab itu Helena sangat rajin membolak-balik majalah-majalah dari Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus. Dari bacaan itu dia pun bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam dunia. Horison yang sempit perlahan dibuka.

Gereja abad ke-19 memang hidup berkat keaktifan berbagai kelompok dan perkumpulan. Dengan demikian Gereja dapat melawan Negara yang liberal. Dengan adanya perkumpulan dan kelompok-kelompok tersebut muncullah pemikiran yang lebih luas, yang mempertanyakan struktur Negara yang otoriter. Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus pun mempunyai misi untuk menyadarkan anak-anak, bahwa mereka sebenarnya patut bersyukur menjadi anggota Gereja, bahwa mereka bukan cuma warga dan bawahan sebuah Negara, melainkan anggota Gereja sejagad. Selain itu Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus pun mau menanamkan dalam diri anak-anak solidaritas dengan anak-anak lain di seluruh dunia. Dia hendak menembusi kesempitan penguasaan Prusia dan membangkitkan rasa solidaritas dengan orang-orang yang menderita di Negara-negara lain. Secara khusus Perkumpulan ini hendak menanamkan tanggung jawab, bahwa orang-orang tanpa iman kristiani ini sangat membutuhkan pewartaan Kristen.

Dalam peninggalan tertulisnya Helena tidak banyak menyinggung kehidupan liturgis paroki. Baginya, kehidupan iman berputar sekitar keaktifannya dalam Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus. Di sini dia mendapat dan menemukan bentuk religiositasnya. Apa yang dibacanya mengagumkannya sedemikian rupa, sehingga dia pun bermimpi tentangnya. Setiap tanggal 28 Desember Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus merayakan pestanya. Agaknya pesta ini dirayakan sangat meriah, sehingga membekas lama dalam ingatan anak-anak. Selain itu dikarang juga lagu-lagu. Sebagiannya dicetak dalam kumpulan lagu-lagu, misalnya "O du liebes Jesuskind". Lagu-lagu itu cocok dengan perasaan dan wawasan anak-anak. Untuk kita zaman ini, lagu-lagu itu terlalu kekanak-kanakan. Namun dulu lagu-lagu itu mempunyai pengaruh mendalam untuk anak-anak. Dalam ibadat dibuat undian. Siapa yang menang akan menjadi ibu atau bapa permandian untuk seorang anak di tanah misi, yang akan dipermandikan dengan nama si pemenang undian. Ketika Helena baru berusia 7 tahun, dia masih dilarang ibunya untuk menempuh jalan yang agak jauh ke Simmerath, sebab terdapat terlalu banyak salju. Helena sendiri menulis, bahwa larangan ini sangat menyakitkannya. "Namun ketika sekolah hampir usai dan anggota-anggota Perkumpulan yang lebih tua sudah kembali dari Simmerath, mereka menceritakan, bahwa saya menjadi ibu pemandian untuk seorang anak di tanah misi. Saya sangat gembira mendengar berita itu dan tidak merasa sedih lagi".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar